Aqidah Islamiyah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengertian Aqidah |
| |
|
Aqidah dari segi bahasa (etimologis)
berasal dari bahasa Arab (AQad) yang bermakna 'ikatan' atau 'sangkutan' atau
menyimpulkan sesuatu.
Menurut istilah (terminologis) 'aqidah' berarti 'kepercayaan', 'keyakinan' atau
'keimanan' yang mantap dan tidak mudah terurai oleh
pengaruh mana pun sama ada dari dalam atau dari luar diri seseorang.
Pengertian Aqidah dalam Al-Quran adalah keimanan kepada Allah swt
yakni mengakui kewujudan-Nya. Dari segi fungsinya Allah SWT berperan sebagai
Rabb (pencipta), Malik (Penguasa atau Raja), dan Ilah (sesuatu yang disembah)
seperti dapat dilihat dalam surah al-Fatihah ayat 1, 3, 4, surah al-Naas ayat 1,
2, 3. Berdasarkan ayat di atas, Aqidah Islamiyah dapat disimpulkan dengan
rumusan Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah, dan Tauhid Uluhiyah. Sebagian ulama
membaginya menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah, dan Tauhid Asma wa
Sifat.
|
| |
|
|
|
Tauhid Rububiyah |
| ||
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Allah menciptakan segala sesuatu ..." [Az-Zumar: 62]
Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang
dan makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, ..." [Hud :
6]
Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia
yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa
atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang
mematikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau
masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau
keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang
hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."
[Ali Imran: 26-27]
Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya.
Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu
kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah ..."
[Luqman: 11]
"Artinya : Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika
Allah menahan rizkiNya?" [Al-Mulk: 21]
Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas
segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." [Al-Fatihah: 2]
"Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk
kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.
Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam." [Al-A'raf: 54]
Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan
terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang
menye-kutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.
"Artinya : Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh
dan Yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."
Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di
tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi
tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka
akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan
manakah kamu ditipu?"
[Al-Mu'minun: 86-89]
Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun
yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya,
melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para
rasul yang difirmankan Allah:
"Artinya : Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan
terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" [Ibrahim:
10]
Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir'aun.
Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa
alaihis salam kepadanya:
"Artinya : Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui,
bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara
langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira
kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa". [Al-Isra':
102]
Ia juga menceritakan tentang Fir'aun dan kaumnya:
"Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan
kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya." [An-Naml: 14]
Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti
komunis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena ke-sombongannya. Akan tetapi
pada hakikatnya, secara diam-diam batin mereka meyakini bahwa tidak ada satu
makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak ada satu benda pun kecuali ada
yang membuatnya, dan tidak ada pengaruh apa pun kecuali pasti ada yang
mempenga-ruhinya. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah
mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan)."
[Ath-Thur: 35-36]
Perhatikanlah alam semesta ini, baik yang di atas maupun yang di
bawah dengan segala bagian-bagiannya, anda pasti mendapati semua itu menunjukkan
kepada Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka mengingkari dalam akal dan hati
terhadap pencipta semua itu, sama halnya mengingkari ilmu itu sendiri dan
mencampakkannya, keduanya tidak berbeda.
Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang komunis saat ini
hanyalah karena kesombongan dan penolakan terhadap hasil renungan dan pemikiran
akal sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah membuang akalnya dan
mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.
Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah,
dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali
Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan
segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala .
|
|||
|
|
Tauhid Uluhiyah |
| ||
Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah .
Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah
dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
"Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan)
dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai
rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,
padahal kamu mengetahui."
[Al-Baqarah : 21-22]
Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembahNya
dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid
rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang
terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan
tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba.
Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang
lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui
bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan
lainnya.
Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah
berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung
kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu
berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang bisa membuat
ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya. Maka
tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah
ber-hujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan
RasulNya untuk ber-hujjah atas mereka seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
"Artinya : Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua
yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah Yang
Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu
sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya,
jika kamu mengeta-hui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah:
"(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al-Mu'minun : 84-89]
"Artinya : (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah
Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta
segala sesuatu, maka sembahlah Dia; ..." [Al-An'am :
102]
Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk
disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari pencipta-an manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembahKu." [Adz-Dzariyat : 56]
Arti " Ya'buduun " adalah mentauhidkanKu
dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui
tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta
mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid
rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka
mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan
Yang mematikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah
yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: 'Allah', ..." [Az-Zukhruf : 87]
"Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah
yang menciptakan langit dan bumi?', niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya
diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Ma-ha Mengetahui'." [Az-Zukhruf : 9]
"Artinya : Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". [Yunus :
31]
Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur'an. Maka
barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini
bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang
tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena
sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu
yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan
isi dan inti dari dalil tersebut.
Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak
dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan
semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan, penghormatan, rasa takut,
do'a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan
rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara' dan fitrah
agar ditujukan khusus kepada Allah semata. Juga secara akal, syara' dan fitrah,
tidak mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selainNya.
|
|||
|
|
Tauhid Mulkiyah |
| |||
Dalil :
Katakanlah (wahai Muhammad) : “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa
pemerintahan, Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada siapa yang Engkau
kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari siapa yang Engkau
kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan
Engkaulah yang menghina siapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah
saja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap
sesuatu.
[Ali Imran : 26]
"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" [Al Maidah : 50]
Tauhid Mulkiyah menuntuk adanya ke-wala-an secara totalitas kepada
Allah, Rasul dan Amirul Mukmin (selama tidak bermaksiat kepada Allah SWT)
Pemimpin (wali)
Wali adalah sebahagian dari sifat-sifat mulkiyatullah. Ia
membawa arti sifat penguasaan iaitu sebagai pelindung, penolong dan
pemelihara.
"Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan kitab
(Al-Qur’an, dan Dia lah jua yang menolong dan memelihara orang-orang yang
berbuat kebaikan." [Al A'raaf : 50]
Pembuat Hukum
Hakiman atau pembuat hukum juga adalah sebahagian dari sifat
mulkiyatullah. Ia mesti diikhtiraf oleh manusia dan tunduk hanya kepada
hukum-hukum yang telah diturunkan olehNya saja karena hak mencipta hukum itu
hanya terhadap kepada Allah semata-mata.
"Apa yang kamu sembah, yang lain dari Allah, hanyalah nama-nama
yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan
sembarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang menentukan amal
ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui." [Yusuf : 50]
Pemerintah
Aamiran atau pemerintah satu lagi sifat mulkiyatullah yang perlu
diketahui oleh setiap muslim. Allah memiliki Arasy dan memerintah seluruh
mahluk ciptaannya ini dengan ketentuan daripadanya. Dia yang menciptakan dan
Dia yang mengarahkan menurut apa yang dikehendakiNya.
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa lalu. Ia bersemayam di atas Arasy. Ia melindungi malam
dengan siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang
menciptakan) matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada
perintahNya. Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan
(sekalian mahluk) dan urusan pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan
mentadbirkan sekalian alam." [Al A'raaf : 50]
Perbedaan Pandangan Mengenai Pembagian Tauhid Mulkiyah/
Hakimiyah
Dalam pandangan kami
Tauhid Mulkiyah adalah bagian dari pada Tauhid
Uluhiyah
(Pengesaan Allah dengan ibadah kepada-Nya. penj). Sebagaimana saya
pernah mendengar Syekh Muhammad bin Ibrahim, Syekh Bin Baz adalah diantara orang
yang tidak mengajarkan Tauhid Hakimiyah ini kepada orang banyak.
Dari sana banyak diantara golongan salafy saudi yang tidak
mengacuhkan istilah ini dan menganggapnya sebagai bid’ah, apakah pendapat ini
benar? Kemudian bisakah Anda tunjukkan kitab apa saja yang memuat keterangan
tentang dimensi tauhid ini?
Jawab : Segala puji hanya bagi Allah Swt.
semata yang mengatur alam semesta ini. Adapun yang dimaksud dengan Tauhid
Hakimiyyah adalah pengesaan Allah dalam perkara hukum dan syari’at. Sebagaimana
Allah tidak memiliki serikat dalam kekuasaanNya, dalam mengurus berbagai urusan
makhlukNya, demikian juga Allah swt tidak memiliki sekutu dalam hukum dan
pembuatan undang-undang (tasyri’). Allah adalah hakim yang paling adil, Dia
memiliki kewenangan untuk memutuskan dan memerintah, maka tidak ada sekutu
bagiNya dalam membuat hukum dan perundang-undangan. Sebagaimana Dia tidak
membutuhkan sekutu dalam kekuasaan dan mengatur urusan mahluk-Nya. Maka demikian
halnya Dia Esa dalam masalah hukum dan tasyri’.
Firman Allah :
”Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia Telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (Yusuf:40)
“dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya) , tidak ada
yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah yang Maha cepat hisab-Nya.” (ar-Ra’d:41)
“Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang
dikehendaki- Nya.”
(al-Maidah:1)
”dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam
menetapkan keputusan.” (al-Kahfi:26)
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?.”
(al-Maidah:50)
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya
(terserah) kepada Allah.” (asy-Syura:10)
“dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik.” (al-An’am:121)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan secara
jelas dan kuat tentang tauhid ini, dan iman seseorang tidaklah dapat dikatakan
sah tanpa adanya tauhid ini. Dalam hadits shohih disebutkan bahwa Nabi
Saw.barkata:
“sesungguhnya Allah adalah hakim dan keputusan ada pada-Nya”.
Namun pertanyaannya, apakah tauhid hakimiyah ini bukan termasuk
tauhid uluhiyyah atau malah bagian tersendiri yang lain dari tauhid uluhiyyah.
Saya katakan, “Tidak, Tauhid ini bukanlah satu jenis tauhid tersendiri yang
bukan bagian dari tauhid uluhiyah. Tauhid ini sudah terkandung di dalam Tauhid
Uluhiyyah. Ada juga unsur yang termasuk kedalam kategori tauhid Rububiyyah. Dan
ada juga unsurnya yang masuk ke dalam kategori Tauhid asma’ dan sifat.
Sebagai contoh; Anda menjumpai suatu kaum yang musyrik dalam hal
ketaatanya, kemudian Aanda berkata, “Kalian seharusnya melakukan tauhid tho’ah
(hanya taat pada Allah swt semata), dan janganlah mentaati seseorang karena
dzatnya kecuali pada Allah swt. Maka statemen Anda yang seperti ini benar dan
Anda tidak boleh diingkari. Juga tidak benar kalau dikatakan bahwa Aanda membuat
sesuatu yang baru dalam masalah tauhid yang namanya tauhid tho’ah, atau menyebut
tauhid lain selain tauhid uluhiyah!!! Begitu pula ketika Anda menjumpai suatu
kaum yang telah menyekutukan Allah dengan mengangkat tandingan-tandingan bagi
Allah dalam aspek mahabbah, wala’ dan baro’ (cinta, loyalitas dan anti
loyalitas).
Saat itu Anda terpaksa menyebut tauhid Mahabbah, sebab yang layak
dicintai karena substansi (dzat)nya sendiri hanyalah Allah swt. Akan tetapi
tauhid ini bukanlah jenis tauhid baru yang bukan tauhid uluhiyah, sebagaimana
statemen anda tentang tauhid mahabbah ini tidak ada unsur yang baru apalagi
bid’ah. Demikian pula jika Anda dapati orang yang menyekutukan Allah swt dalam
hal berdoa dan meminta pertolongan. Merespons sikap mereka itu Anda berkata,
“Kamu harus mengesakan Allah swt dalam doa dan permohonan. Pembagian tauhid
seperti ini bukan berarti menyebutkan bagian tauhid baru yang terpisah dari
tauhid uluhiyah. Disebutkan macam seperti di atas karena adanya kebutuhan yang
mengharuskan adanya penjelasan tersendiri ketika Anda menjumpai orang yang
berbuat syirik dari sisi itu. Tidak ada seorang pun baik yang terdahulu maupun
sekarang yang mengatakan, “Bahwa tauhid hakimiyah adalah bagian tauhid
tersendiri atau bagian ke-empat dari pembagian tauhid”. Semuanya ulama’
memasukkannya ke dalam tauhid uluhiyah, dan juga memasukkan sebagian unsur-unsur
yang ada di dalamnya ke dalam bagian tauhid yang lain sebagaimana telah
dijelaskan di muka.
Adapun maksud dari disebutkannya jenis tauhid ini adalah
urgensinya agar ummat memperhatikan aspek tauhid yang sudah hampir musnah. Jika
anda telah memahaminya, propaganda dari para penentangnya sudah tidak bisa lagi
untuk dijadikan alat justifikasi selain hanya ingin mereduksi makna dari tauhid
yang tidak kalah pentingnya ini, serta ingin dijadikan sebagai pembenar dari
kekurangan para thoghut hukum dari pengingkaranya terhadap sisi tauhid ini.
Adapun yang berkaitan dengan pertanyaan Anda tentang buku-buku
yang memuat persoalan ini Sebenarnya kitab-kitab yang membahas persoalan itu
banyak sekali. Yang terpenting adalah kitabulloh Al-Quran kemudian kitab-kitab
hadits, serta buku-buku aqidah seperti karangannya Ibnu Taimiyyah, Ibnu Abdul
Wahhab serta para cucunya. Sedangkan buku dari para ulama kontemporer adalah
buku yang ditulis oleh Sayyid Qutub r.h., khususnya kitab: Fi Dzilal al-Qur’an,
al-Ma’alim fi ath-Thariq”, “Khosois al-Tasawwur al-Islamiy, dan “Maqawwamat
tashawwur islamy”. Dan juga buku-buku karya Muhammad Quthb. Selain itu ada
sebuah risalah yang membahas tentang Tauhid Hakimiyyah oleh syaikh Abu Itsar.
Demikian juga kitab dan makalahnya Abu Muhammad al-Maqdisi. Dan seandainya Anda
telaah kitab-kitab dan makalah kami, niscaya kalian tidak akan manafikan faedah
dari penyebutan tauhid ini, Insya Allah.
|
||||
|
|
Tauhid Asma wa Sifat |
| ||
dengan landasan firman Allah :
"Artinya : Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat." [Asy-Syura : 11]
Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah
bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam, mereka tetapkan
untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal
Jama'ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh
rasul-Nya, dengan penafian secara ijmal, berdasarkan kepada firman Allah :
"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya..." [Asy-Syura : 11]
Penafian sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu
kesempurnaan. Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, berupa kekurangan
atau persekutuan makhluk dalam hal-hal yang merupakan kekhususan-Nya,
menunjuk-kan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan
kebalikannya. Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat.
Maksud saya penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu dalam
firman Allah Subhanallahu wa Ta'ala :
"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Din Maha
Mendengar lagi Melihat." [Asy-Syura: 11]
Ayat ini mengandung tanzih, -penyucian- Allah dari penyerupaan
dengan makhluk-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatanNya. Bagian awal
ayat di atas merupakan bantahan bagi kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah),
yaitu firman Allah Ta'ala:
"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang scrupa dengan-Nya ..."
Adapun bagian akhir dari firman Allah tersebut merupakan bantahan
bagi kaum Mu'athilah -yang melakukan ta'thil-, yaitu firman Allah:
"Artinya : Dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat."
Pada bagian pertama terkandung penafian secara ijmal sedangkan
pada bagian terakhir terkandung penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga
mengandung bantahan bagi kaum Asy'ariyah yang mengatakan bahwa Allah mendengar
tanpa pendengaran dan melihat tanpa penglihatan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta'ala mencantumkan ayat
diatas, berikut surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena surah Al-Ikhlas dan
ayat-ayat tersebut mengandung penafian dan penetapan. Surah Al-Ikhlas memiliki
bobot yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, sebagai-mana dinyatakan oleh
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam. Para ulama menyebutkan penafsiran sabda
beliau itu, bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tiga macam kandungan, yaitu :
Tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum.
Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung, bahkan merupakan ayat yang
paling agung di dalam Al-Qur'an. Itu disebabkan, ia mengandung nama-nama Allah
Yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat
tersebut terkumpul di dalamnya, yang tidak terkumpul seperti itu dalam ayat
lainnya. Karena itu, ayat yang mengandung makna-makna agung ini layak untuk
menjadi ayat yang paling agung dalam Kitabullah.
|
|||
|
|
| Penyakit Tauhid (Pembagian Syirik) |
| ||||||
Perlu pembaca ketahui bahwa ulama membagi jenis syirik menjadi dua
bagian :
Penjelasan Syirik Akbar
Sebagaimana penjelasan di atas, syirik akbar merupakan dosa yang
terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila tidak bertaubat. Allah
Ta’ala bberfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar.”
[QS. An Nisa’ : 48]
Juga pelaku Syirik Akbar tempat kembalinya adalah neraka dan
diharamkan baginya Surga.
Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata :
‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.’ Padahal Al Masih
(sendiri) berkata : ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang yang dhalim itu seorang penolong pun.”
(Al
Maidah : 72)
Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa syirik akbar menggugurkan
amalan-amalan adalah firman Allah Ta’ala :
“Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada
siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka
mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka
kerjakan.”
(QS. Al An’am : 88) [kembali]
Macam-Macam Syirik Akbar
Macam-macam dari Syirik Akbar ini sangat banyak sekali, tetapi
bisa kita kelompokkan menjadi tiga bagian :
Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa
menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari
sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan
lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah namun
mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyyah. Mereka meyakini kalau Allah
satu-satunya Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada
kuburan-kuburan seperti kuburan Latta.
Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka :
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah
yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu
mereka akan menjawab : “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari
jalan yang benar).
(QS. Al Ankabut : 61)
Firman Allah Ta’ala :
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka : “Siapakah
yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah
matinya?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi
Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al
Ankabut : 63)
Firman Allah Ta’ala :
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah
yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.”
Katakanlah : “Segala puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahuinya. (QS. Luqman : 25)
Firman Allah Ta’ala :
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab : “Semuanya
diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS.
Az Zukhruf : 9)
Ayat-ayat ini semua menunjukkan kalau orang-orang musyrik
terdahulu mengakui Allah-lah satu-satunya pencipta yang menciptakan langit dan
bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya.
Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya. Maka
bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah
Penciptanya atau ada tuhan lain yang menciptakan, menghidupkan, dan mematikan,
yang menurunkan hujaan dan seterusnya atau ada yang serupa dengan Allah dalam
masalah-masalah ini. Tentu yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dimaksud
syirik dalam rububiyah. [kembali]
Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang
berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada
hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja.
Firman Allah Ta’ala :
“Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan)
dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai
rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah
padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah :
21-22)
Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia beribadah kepada
Rabb mereka dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain syahadat, shalat,
zakat, shaum, haji, sujud, ruku’, thawaf, doa, tawakal, khauf (takut), raja’
(berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu),
khusu’, khasyah, isti’anah (minta tolong), isti’adzah (berlindung), istighatsah
(meratap), penyembelihan, nadzar, sabar dan lain lain dari berbagai macam ibadah
yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Di sisi lain ada kerancuan yang terdapat di kalangan umum dalam
memahami ibadah. Mereka mengartikan ibadah dalam definisi yang sempit sekali
seperti shalat, puasa, zakat, haji. Ada pun yang lainnya tidak dikategorikan di
dalamnya.
Sungguh indah perkataan Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah
rahimahullah dalam mendefinisikan ibadah, beliau berkata :
“Ibadah itu ialah suatu nama yang mencakup semua perkara yang
dicintai Allah dan diridhai-Nya, apakah berupa perkataan ataupun perbuatan, baik
dhahir maupun yang bathin.”
Inilah pengertian ibadah yang sesungguhnya, yaitu meliputi segala
perkara yang dicintai dan diridlai Allah, baik itu berupa perkataan maupun
perbuatan.
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21 di atas menyatakan
sembahlah Rabb kamu, dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman kepada semua
manusia bahwa Ar Rabb yang wajib disembah adalah yang telah menciptakanmu dan
orang-orang sebelum kamu, yang menciptakan langit dan bumi serta yang mampu
menurunkan air (hujan) dari langit. Yang dengan air hujan itu dihasilkan segala
jenis buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian agar kalian mengetahui semua. Maka
janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dengan menyembah dan meminta
rezeki kepada selain-Nya. Apakah kalian tidak malu dan berpikir bahwa Allah yang
menghidupkan dan yang memberi rezeki kemudian kalian tinggalkan untuk beribadah
kepada selain-Nya?
Firman Allah Ta’ala :
“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tak dapat
memberi rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi dan tidak berkuasa
(sedikit jua pun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.
Sesungguhnya Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl : 73-74) [kembali]
Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada hukum lain yang
wajib/harus ditaati selain hukum Allah dan RasulNya.
Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka :
.. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al
Maidah : 44)
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. Annisa :
65) [kembali]
Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan
sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada
makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.
Firman Allah Ta’ala :
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.“ (QS. Al Jin : 26)
Lihat pembahasan selengkapnya pada sub judul Keyakinan Adanya
Makhluk Yang Mengetahui Hal Yang Ghaib di belakang tulisan ini. [kembali]
Penjelasan Syirik Ashghar
Meskipun dalam masalah ini ada khilaf (sebagaimana yang telah kita
bahas di atas) akan tetapi wajib bagi setiap Muslim untuk berhati-hati terhadap
penyakit ini dan jangan menganggap remeh. Pelakunya diwajibkan untuk bertaubat.
Di antara yang dikategorikan dalam Syirik Ashghar antara lain :
Ar Riya’ [kembali]
mengamalkan suatu ibadah supaya dilihat manusia dalam rangka
mendapatkan popularitas). Meskipun syirik ini tidak membatalkan semua amalan
secara keseluruhan namun ia membatalkan amalan yang diniatkan untuk manusia
tersebut. Maka wajib bagi pelakunya untuk bertaubat.
Firman Allah yang menerangkan bahwa riya’ itu membatalkan amalan
yang disertai riya’ tersebut adalah sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia
dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu
seperti batu licin yang di atasnya ada tanah kemudian batu itu ditimpa hujan
lebat lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak berkuasa sedikit
pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang kafir.”
(QS. Al Baqarah : 264)
Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid bahwa dia berkata Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata : “Suatu ketakutan yang paling aku
takutkan dari kalian adalah syirik kecil.”
Kemudian ditanyakan tentang
syirik itu, beliau menjawab : “Riya’.” (HR. Ahmad)
Dan juga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Allah Ta’ala berfirman : ‘Barang siapa melakukan
suatu amalan kemudian ia jadikan bersama Allah sekutu dalam amalan itu maka
Allah tinggalkan amalan tersebut dan sekutunya.’” (HR.
Muslim)
Dalam masalah membatalkan amalan, riya’ ini terbagi menjadi dua
bagian :
mengamalkan suatu ibadah supaya didengar orang lain dalam rangka
mendapatkan popularitas). Pada hakekatnya sum’ah merupakan riya’ juga.
Dua penyakit ini yang sangat rawan dalam hati
karena sangat samar tidak terlihat oleh mata sehingga seorang Muslim harus
sangat berhati-hati. Ayat Al Qurr’an dalam surat Al Baqarah 264 serta hadits
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dari shahabat Mahmud bin Labid di atas
menjadi perhatian bagi kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil dengan
panggilan ‘Wahai orang-orang yang beriman’ dan Rasulullah mengkhawatirkan riya’
tersebut akan menimpa para shahabat. Hal ini menunjukkan bahwa orang Mukmin pun
apabila tidak hati-hati akan terkena penyakit ini. Mudah-mudahan Allah
selamatkan kita darinya.
Pembaca yang semoga dimuliakan Allah, Syirik Akbar dan Syirik
Ashghar memiliki cabang yang sangat banyak dan memerlukan pembahasan yang sangat
panjang. Tidak mungkin kita paparkan dalam satu kali pertemuan. Tetapi yang
penting untuk kita ketahui adalah sifat atau ciri-ciri dari keduanya serta
bahayanya sehingga kita berhati-hati terhadap kedua-duanya. Barangsiapa yang
jatuh ke dalam salah satu di antara dua jenis syirik ini hendaknya ia segera
bertaubat.
Firman Allah Ta’ala :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada Surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa.”
(QS. Ali Imran : 133)
Firman Allah Ta’ala :
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan
amal shalih maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Furqan : 70)
Firman Allah Ta’ala :
Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53) [kembali]
Keyakinan Adanya Makhluk Allah Yang Mengetahui Hal Ghaib
Meyakini adanya makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara
ghaib termasuk salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan. Karena salah satu dari
aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meyakini bahwa tidak ada satu pun dari
makhluk Allah yang ada di langit (seperti malaikat) ataupun di bumi (seperti
Nabi-Nabi dan manusia atau jin) yang mengetahui hal ghaib.
Di antara dalil-dalil adalah sebagai berikut :
1. Secara Umum Tidak Ada Satu Makhluk Pun Yang Mengetahui Hal
Ghaib
Dalil-dalil yang menunjukkan secara umum tidak adanya satu
makhluk pun yang mengetahui hal-hal ghaib. Seperti ucapan Allah dalam surat Hud
:
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya. Maka sembahlah Dia dan
bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Hud : 123)
Dan firman Allah dalam surat Al Jin :
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (QS. Al Jin : 26)
2. Malaikat Tidak Mengetahui Hal Yang Ghaib
Para malaikat walaupun mereka adalah makhluk Allah yang paling
dekat dengan-Nya juga tidak mengetahui hal yang ghaib kecuali terhadap
masalah-masalah yang Allah beritahukan kepada mereka. Di antara dalilnya adalah
ucapan Allah dalam surat Al Baqarah 32 :
Mereka menjawab : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah
yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah : 32)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat As Saba’ 23
:
Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang
yang telah diijinkan-Nya memperoleh syafaat itu. Sehingga apabila telah
dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata : “Apakah yang telah
difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab : “(Perkataan) yang benar.” Dan
Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. As Saba’ : 23)
Dalam ayat ini dioceritakan bahwa malaikat bertanya-tanya tentang
apa yang baru dikatakan oleh Rabbnya. Ini menunjukkan kalau malaikat pun tidak
mengetahui yang ghaib.
3. Rasulullah Serta Para Nabi Tidak Mengetahui Tentang Hal
Ghaib
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta para Nabi dan
Rasul tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui hal ghaib kecuali
perkara-perkara ghaib yang telah Allah beritakan kepadanya.
Adapun apa yang dikecualikan oleh Allah setelah ayat 26 dalam
surat Al Jin di atas adalah tidak mutlak. Ketika Allah mengatakan kecuali Rasul
yang diridlai artinya kecuali Rasul yang diberitahu sebagian tentang hal-hal
ghaib. Adapun yang tidak diberitahukan oleh Allah kepadanya, Rasul pun tidak
mengetahuinya. Dengan demikian Rasulullah tidak mengetahui hal yang ghaib secara
mutlak. Yang mengetahui hal-hal ghaib secara keseluruhan dan mutlak hanyalah
Allah. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya. Allah berfirman
memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui
hal yang ghaib :
Katakanlah : “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku
dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.” (QS. Al A’raf : 188)
Beliau hanya mengetahui apa-apa yang diberitakan oleh Allah dalam
wahyu-Nya sebagaimana apa yang Allah katakan dalam firman-Nya :
Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan
Allah ada padaku dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa
yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah : “Apakah sama orang yang buta dengan
orang yang melihat. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al An’am :
50)
Demikian pula ketika Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang
ucapan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kepada kaumnya, juga meniadakan dari dirinya ilmu
ghaib :
“Dan aku tidak mengatakan kepada kamu bahwa aku mempunyai
gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah dan tidak mengatakan bahwa aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku
adalah malaikat dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang
hina oleh penglihatanmu (( : sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan
kepada mereka)). Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka,
sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim.”
(QS. Hud: 31)
4. Jenis Jin Pun Tidak Mengetahui Hal Ghaib
Bahkan makhluk dari jenis jin pun tidak mengetahui hal yang
ghaib. Ini sebagai bantahan langsung dari Allah kepada para dukun-dukun yang
mengaku mengetahui hal ghaib :
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada
yang menunjukkan kepada mereka kematiannya kecuali rayap yang memakan
tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungur, tahulah jin itu bahwa kalau
sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa
yang menghinakan.” (QS. Saba’ : 14)
5) Kahin (Dukun), Ahli Nujum, Dan Musya’widzin (Tukang
Sihir) Tidak Mengetahui Hal Ghaib
Kalau kita sudah mengetahui bahwa malaikat-malaikat dan Nabi-Nabi
kemudian jin-jin tidak ada yang mengetahui perkara ghaib apalagi para kahin,
dukun-dukun, ahli nujum, tukang ramal, musya’widzin (tukang sihir), dan
lain-lain.
Berikut ini firman Allah Ta’ala yang menerangkan bahwa mereka
tidak mengetahui hal ghaib.
Firman Allah Ta’ala :
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu
hal-hal yang ghaib.” (QS. Ali Imran : 179)
Firman Allah Ta’ala :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfudh).” (QS. Al An’am : 59)
Firman Allah Ta’ala :
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan semua urusan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah
kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Hud : 123)
Ayat-ayat ini semuanya mengajak bicara orang kedua dengan lafadh
kamu tidak mengetahui atau tidak memperlihatkan kepadamu dan seterusnya. Ini
menunjukkan kalau semua manusia tidak mengetahui hal yang ghaib termasuk dukun,
tukang sihir, paranormal, dan lain-lain.
Bahkan manusia itu sendiri tidak mengetahui berapa lamanya ia
tidur sebagaimana yang Allah kisahkan tentang ashabul kahfi yang tidur di dalam
gua selama 309 tahun :
Katakanlah : “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka
tinggal (di gua), kepunyaan-Nya-lah semua yang ghaib (tersembunyi) di langit dan
di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya dan
Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”
(QS. Al Kahfi : 26)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda berkaitan
dengan masalah di atas :
Dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma berkata, bersabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Kunci-kunci keghaiban ada lima.
Tiada yang mengetahui kelimanya kecuali Allah. Tiada seorang pun yang mengetahui
apa-apa yang dalam rahim kecuali Allah dan tiada seorang pun yang mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Tiada seorang pun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia akan mati, tiada seorangpun yang mengetahui kapan
datangnya hujan kecuali Allah dan tiada seorang pun yang mengetahui kapan
datangnya hari kiamat kecuali Allah.” (Telah mengeluarkan hadits ini, Al Bukhari
dan Imam Ahmad dengan sanad yang shahih)
Maka para pembaca sekalian hendaknya mengambil pelajaran dan
menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahui bahwa kita tidak perlu datang
ke dukun-dukun, tukang ramal, tukang sihir, ‘orang pintar’ atau ahli nujum, dan
lain-lain dengan tujuan untuk mengetahui perkara-perkara ghaib seperti siapa
jodohnya, darimana rezekinya, kapan ajalnya, dan seterusnya. Karena dua sebab
:
Pertama, perbuatan itu sia-sia karena sesungguhnya kita telah
menyakini bahwa tidak ada yang mengetahui hal-hal ghaib kecuali Allah.
Kedua, kita telah berbuat suatu kesyirikan karena meyakini adanya
‘alimul ghaibi atau yang mengetahui keghaiban selain Allah yang berarti
menyamakan makhluk dengan khaliqnya dalam masalah mengetahui ilmu ghaib.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengancam :
“Barangsiapa yang mendatangi dukun-dukun kemudian mempercayainya
maka dia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan pada Muhammad.”
Demikianlah, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan
seluruh kaum Muslimin kepada jalan yang lurus dan selamat. Selamat dari
kesyirikan dan kesesatan di dunia dan selamat dari adzab Allah di
akhirat
|
|||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar