Syrik Akhir Zaman
|
|
Syirik Zaman Ini
Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa
kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan
urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam
hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang
permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu
lembah hitam kesyirikan.
Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi
kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan
manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau
telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka
dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A'rof: 16).
Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita
sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wasallam…!! Kenapa bisa demikian ?
|
|
|
Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang
Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan
kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam
keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh,
hanya berdo'a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh.
Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka,
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu
seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu
berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra': 67).
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada
Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya
kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh)
untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi
Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:
‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu
termasuk penghuni neraka'.” (Az-Zumar: 8).
Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu,
lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini?
Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu
lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu.
Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah
ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap
keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka
telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta
ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun
untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada
Alloh yang amat nyata.
Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang
benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan
sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak
tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak
dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah
sia-sia belaka.” (Ar-Ro'du: 14)
|
|
|
Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya
Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi
wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok,
Yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang
sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali.
Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu
dan lainnya.
Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman
kita?
Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka
kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan
diharapkan berkahnya.
Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke
makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen.
Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri
(permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka
diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon
sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat
terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya.
Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan
berselingkuh dulu…!! Allohu Akbar!
|
|
|
Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam
Rububiyah-Nya
Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa
Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang
menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh.
Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman
dahulu.
Dalilnya adalah firman Alloh, “Dan sungguh jika kamu bertanya
kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:
‘Alloh', maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.”
(Az-Zukhruf: 87).
Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.' Maka katakanlah ‘Mengapa
kamu tidak bertakwa kepada-Nya?'.” (Yunus: 31).
Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu
kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah
yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do'a, nadzar,
menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman
dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan
bahwa patung itu bisa mengabulkan do'a mereka atau punya kekuasaan untuk
mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung
(sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat
menyampaikan do'a mereka kepada Alloh.
Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah
diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan
mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat,
sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui
perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa'at pada sesembahan
mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan,
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan
kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar:
3)
Lalu bagaimana keadaan
musyrikin sekarang ini?
Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah
ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul.
Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah
hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi
Roro Kidul. Allohu akbar!
Betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam
semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang
takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir
ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.
|
|
|
Fenomena Taqlid pada Nenek Moyak dan Budaya Barat
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
(perbuatan) nenek moyang kami".
"(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka
itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"
(Al Baqarah : 170)
Diantara fenomena taqlid pada nenek moyang
dan budaya barat, orang-orang musyrik sekarang ini
adalah, mereka selalu mengikuti ajaran-ajaran nenek moyang yang dibungkus
modernisasi (seperti Persaudaraan dalam Wathaniyah/
Nasionalisme/ Bhinneka Tunggal Ika), Sekularisme,
Pluralisme, Libelarisme, Demokrasi (Kedaultan Rakyat).
Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal
daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk
kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk
mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala
macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk
apa belajar tauhid sekarang ini?”
Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita
taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang
merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di
akhirat.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar